Beranda / Pendidikan / Gandeng Yamaha hingga Daihatsu, SMKN 1 Labuapi Garansi Kelulusan Siap Kerja

Gandeng Yamaha hingga Daihatsu, SMKN 1 Labuapi Garansi Kelulusan Siap Kerja

IMG 20260609 092902

Lombok Barat, NTB – Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 1 Labuapi, Lombok Barat, sukses mencatat tren positif pada Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tahun ajaran 2026. Grafik minat pendaftar di sekolah kejuruan ini melonjak signifikan dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Kepala SMKN 1 Labuapi, Sayadi, S.T., M.M., mengungkapkan bahwa jika pada tahun lalu pihak sekolah harus berjuang keras untuk mendapatkan siswa hingga akhir masa pendaftaran, per minggu ini kuota pendaftar sudah sukses mengamankan slot untuk tiga kelas baru.
“Alhamdulillah grafiknya naik. Baru per minggu ini saja ritme pendaftar yang masuk sudah memenuhi kuota tiga kelas. Tahun ini target total kami adalah menjaring hingga 300 siswa baru,” ujar Sayadi saat diwawancarai di ruang kerjanya.
Melejitnya animo masyarakat ini tidak lepas dari lengkapnya fasilitas praktik dan kebijakan sekolah gratis (0 rupiah) untuk biaya jasa pendidikan. Pada tahun 2026 ini, SMKN 1 Labuapi mendapatkan kucuran bantuan pembangunan laboratorium komputer baru dan ruang praktik modern untuk pemrograman. Bantuan ini melengkapi deretan fasilitas yang telah dibangun pada tahun 2025, mulai dari lab bahasa, lab kimia, hingga ruang UKS.
Saat ini, SMKN 1 Labuapi memiliki lima jurusan unggulan, di antaranya Teknik Otomotif Mobil, Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ), Pengembangan Perangkat Lunak (PPLK), serta Teknik Instalasi Tenaga Listrik. Tak puas sampai di sana.
“Kami sudah melakukan kunjungan dan berkoordinasi dengan Komisi X DPR RI untuk rencana mengeksekusi pembukaan Jurusan Penerbangan (SMK Penerbangan). Selain itu, kami juga melihat peluang besar di bidang kesehatan dengan menggodok pembukaan jurusan Elektromedis yang bekerja sama dengan Universitas Stikes Yarsi serta jaringan rumah sakit,” urainya.

IMG 20260609 091600


Sebagai sekolah vokasi, SMKN 1 Labuapi sukses membangun link and match dengan dunia industri. Salah satu mitra strategis utamanya adalah raksasa otomotif Yamaha. Melalui kerja sama ini, para alumni diserap langsung kerja melalui proses seleksi ketat dan dikirim ke Surabaya untuk digembleng dalam pelatihan khusus selama 6 bulan.
Keberhasilan program ini sudah terbukti nyata di lapangan. Jika masyarakat berkunjung ke bengkel resmi (dealer) Yamaha di wilayah sekitar, mayoritas montir andalannya adalah produk lokal besutan SMKN 1 Labuapi.
“Bahkan saat ini, Kepala Mekanik di Main Dealer Yamaha itu adalah alumni dari SMKN 1 Labuapi. Kami juga baru saja mendapatkan bantuan mesin praktik langsung dari Yamaha. Ke depan, kami sedang membidik kemitraan serupa dengan Astra Daihatsu Mobil agar lulusan kami bisa mendapat beasiswa dan langsung terserap,” tambah Sayadi.
Meski jalur karier dan fasilitas magang hingga ke Jepang sudah terbuka lebar, Sayadi menyayangkan masih adanya kendala klasik yang mengganjal mentalitas para siswa dan orang tua, yakni budaya “berat pisah” atau enggan merantau keluar daerah.
Seringkali sekolah mendapatkan kuota rekrutmen eksklusif, namun tidak terpenuhi karena siswa mendadak ciut saat harus dikirim pelatihan ke luar pulau. Ketatnya aturan kedisplinan industri—seperti larangan memegang HP selama masa diklat di Jakarta atau Surabaya—juga kerap membuat orang tua panik dan mencari-cari anaknya, padahal seluruh akomodasi dan fasilitas di hotel mewah sudah ditanggung penuh oleh perusahaan mitra.
Untuk mematahkan hambatan mental ini, pihak sekolah kini gencar menyodorkan publikasi materiil dan testimoni sukses dari para alumni yang sudah berhasil.
“Anak-anak kita ini rata-rata memiliki penyakit psikologis ikut-ikutan dan telat mikir. Saat ditawari magang gratis ke luar daerah atau ke Jepang, mereka menolak karena berat berpisah dengan orang tua. Begitu melihat temannya pulang sudah sukses, punya tabungan, dan digaji besar, baru mereka menyesal dan datang menangis mau ikut. Tapi kan momentumnya sudah lewat,” sentil Sayadi.
Melalui pendekatan edukasi berbasis testimoni riil ini, Sayadi berharap para orang tua di Lombok Barat bisa membuka mata dan merestui putra-putrinya untuk berani keluar dari zona nyaman demi menjemput masa depan yang mapan.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *